WASHINGTON, 17 April – C.S. Venkatakrishnan, CEO Barclays, mengatakan bahwa model AI frontier dari Anthropic, Mythos, merupakan ancaman serius bagi sistem perbankan global. Menurutnya, kita kemungkinan akan menghadapi ancaman siber yang lebih kuat di masa mendatang.

Kemampuan luar biasa Mythos dalam coding pada tingkat tinggi memberikannya kemampuan yang belum pernah ada sebelumnya untuk mengidentifikasi kerentanan cybersecurity dan merancang cara untuk mengeksploitasinya. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa teknologi ini bisa digunakan untuk mengganggu stabilitas bank-bank di seluruh dunia.

Pernyataan ini muncul di tengah upaya regulator dan pengawas untuk mengevaluasi dampak dari model tersebut. Beberapa organisasi kini tengah meninjau model Mythos untuk memahami tingkat risiko cybersecurity yang sebenarnya. Model ini telah menimbulkan alarm di kalangan regulator yang melihatnya sebagai tantangan signifikan bagi sektor perbankan dan sistem teknologi kuno yang mereka gunakan.

Pentingnya Memahami Ancaman AI

Dalam pidatonya di pertemuan kelompok konsultasi G30, yang berlangsung di sela-sela pertemuan musim semi IMF, Venkatakrishnan menegaskan, “Mengenai Mythos, ini adalah masalah serius. Namun, perlu diingat bahwa akan ada Mythos 2 dan Mythos 3, dan mereka akan muncul dengan frekuensi yang mungkin mengkhawatirkan.”

Lonjakan teknologi semacam ini dapat mempercepat perlombaan senjata yang memaksa lembaga keuangan untuk berinovasi. Hal ini bisa menjadi tantangan besar, terutama bagi institusi yang lebih tua dan besar yang kemungkinan masih menggunakan sistem teknologi yang ketinggalan zaman.

Risiko dan Inovasi di Sektor Perbankan

Venkatakrishnan menekankan pentingnya memahami kemampuan Mythos dan cara untuk melindungi diri dari ancaman yang ditimbulkannya. “Kita harus memahami kemampuannya dan bagaimana cara melindungi diri terhadapnya,” ujarnya.

Sektor perbankan Indonesia juga perlu waspada terhadap perkembangan ini. Meskipun Indonesia mungkin tidak menjadi target langsung, teknologi seperti Mythos dapat mempengaruhi sistem keuangan global, yang pada gilirannya berdampak pada stabilitas ekonomi domestik. Oleh karena itu, penting bagi otoritas keuangan dan bank untuk melakukan peninjauan dan pembaruan terhadap sistem keamanan siber mereka.

Kesiapan Teknologi Perbankan di Indonesia

Bank-bank di Indonesia, terutama yang lebih besar dan lebih tua, mungkin menghadapi kesulitan dalam beradaptasi dengan teknologi baru yang muncul. Dengan adanya ancaman ini, mereka harus lebih proaktif dalam berinvestasi pada teknologi yang dapat meningkatkan keamanan dan kemampuan mereka dalam menghadapi potensi serangan siber.

Selain itu, kolaborasi antara sektor perbankan dan pihak berwenang dalam mengembangkan kebijakan keamanan siber yang efektif juga sangat penting. Hanya dengan cara ini, sektor perbankan dapat mempertahankan kepercayaan publik dan memastikan stabilitas ekonomi jangka panjang.

Kesimpulan

Dengan munculnya model AI canggih seperti Mythos, sektor perbankan global, termasuk Indonesia, harus bersiap menghadapi tantangan baru di dunia siber. Penting untuk meningkatkan kesadaran akan risiko ini dan melakukan investasi yang diperlukan untuk melindungi sistem keuangan dari ancaman yang semakin kompleks.