BEIJING, 12 Maret – Para pembalap menyatakan bahwa kemungkinan besar akan terjadi kecelakaan besar di start line Formula 1 musim ini kecuali ada perubahan pada regulasi mesin. Hal ini disampaikan menjelang Grand Prix China, di mana beberapa unit tenaga mobil kini menunjukkan performa yang jauh lebih cepat dibandingkan lainnya.
Pembalap Racing Bulls, Liam Lawson, mengungkapkan kepada wartawan bahwa ia sudah bersiap untuk kemungkinan kecelakaan setelah mobilnya kesulitan untuk berangkat di Grand Prix Australia pekan lalu. Ia melihat mobil Alpine milik Franco Colapinto dengan cepat mendekat dari kaca spionnya. “Jika ini terus berlanjut, maka ya,” kata Lawson ketika ditanya apakah ada cara untuk meningkatkan konsistensi di garis start atau apakah itu hanya menunggu waktu hingga terjadinya kecelakaan besar. “Saat ini, situasinya cukup berbahaya,” tambahnya, sembari memuji refleks cepat Colapinto yang berhasil menghindari tabrakan dengan mobil Racing Bulls yang kesulitan.
Regulasi Mesin Baru dan Dampaknya
Menurut regulasi baru, sekitar setengah dari daya puncak mobil berasal dari baterai. Turbocharger tidak lagi dioperasikan oleh motor listrik yang dihilangkan dari unit tenaga tahun ini, sehingga membuatnya lebih sulit untuk membangun energi dan dorongan turbo saat mobil sedang menunggu di grid. Dengan adanya pembagian 50-50 antara tenaga listrik dan mesin pembakaran, mobil-mobil tahun 2026 menghasilkan torsi yang jauh lebih besar, yang berarti mobil dari belakang grid dapat mencapai garis start dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Hal ini berpotensi membawa bencana, terutama jika mobil di depan mengalami kesulitan untuk berangkat.
Pembalap Cadillac, Sergio Perez, menegaskan, “Ini hanya masalah waktu hingga kecelakaan besar terjadi. Unit tenaga ini sangat sulit untuk di-start. Dan ini bisa sangat berbahaya, karena kecepatan yang dicapai dalam dua hingga tiga detik sangat ekstrem,” lanjutnya.
Pendapat Pembalap Lain
Pembalap Williams, Carlos Sainz, juga merasakan hal yang sama, menyatakan bahwa kemungkinan besar akan ada kecelakaan besar jika regulasi tetap sama. Ia menambahkan bahwa mode ‘Boost’ baru yang diperkenalkan untuk membantu overtaking juga memungkinkan mobil dengan cepat mendekati pembalap di depannya dengan kecepatan berbahaya antara 40-60 kpj selama balapan.
Colapinto berpendapat bahwa tim-tim akan segera menemukan cara untuk mendapatkan keseimbangan yang lebih baik di garis start, namun ia mengakui bahwa saat ini situasinya “sedikit berbahaya.” Ketika ditanya apakah tim F1 seharusnya menggunakan spotter ala NASCAR, yang memberikan informasi waktu nyata kepada pembalap melalui radio saat start, Colapinto merasa bahwa terlalu banyak yang terjadi dengan cepat di awal balapan sehingga informasi yang dikirim melalui setir oleh tim tidak cukup memadai.
Dampak untuk F1 dan Penonton di Indonesia
Kecelakaan di garis start dapat memiliki dampak signifikan bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, yang terus tumbuh, terutama dengan adanya siaran langsung balapan yang semakin mudah diakses. Insiden besar dapat memicu kekhawatiran tentang keselamatan di sirkuit, yang tentunya akan menjadi perhatian bagi pihak penyelenggara dan penonton. Selain itu, performa mobil yang tidak konsisten juga dapat mempengaruhi jalannya balapan dan menarik perhatian lebih banyak penggemar di tanah air.
Kesimpulan
Dengan adanya tantangan baru dalam regulasi mesin Formula 1, para pembalap berharap agar perubahan segera dilakukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan besar di garis start. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama, dan dengan meningkatnya kecepatan serta torsi yang dihasilkan, penting untuk menjaga agar balapan tetap aman dan menarik bagi penonton, termasuk di Indonesia.