LONDON, 21 April: Kenaikan harga minyak yang tajam akibat perang antara AS-Israel dan Iran telah menghidupkan kembali minat terhadap biofuel. Kebutuhan untuk mengatasi kekurangan bahan bakar fosil kini lebih mendesak dibandingkan kekhawatiran bahwa penggunaan tanaman untuk bahan bakar akan meningkatkan harga pangan.
Konflik ini telah mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia yang biasanya melewati Selat Hormuz di Teluk Persia. Harga minyak mentah telah meningkat lebih dari 30 persen sejak akhir Februari, sebelum perang dimulai. Sebaliknya, harga jagung, bahan utama untuk biofuel, hanya naik 5 persen.
Biofuel: Solusi di Tengah Kenaikan Harga Energi
Biofuel yang berasal dari bahan organik biasanya dicampurkan ke dalam bensin atau digunakan sebagai pengganti diesel. Ketika harga bahan bakar fosil meningkat, biofuel menjadi lebih ekonomis. Penggunaan biofuel juga dapat membantu menekan harga di pompa dan mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah dan bahan bakar yang mahal.
Negara-negara di Asia yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah telah berupaya meningkatkan penggunaan biofuel sejak perang dimulai. Asia mengimpor sekitar 80 persen minyak yang dikirim melalui Selat Hormuz, yang sebagian besar ditutup untuk pengiriman sejak konflik dimulai.
Vietnam mengumumkan pada akhir Maret bahwa mereka akan sepenuhnya beralih ke bensin yang dicampur etanol mulai April sebagai respons terhadap lonjakan harga energi, mempercepat target sebelumnya yang ditetapkan pada 1 Juni. Etanol sebagian besar diproduksi dari jagung atau tebu.
Indonesia juga mengumumkan akan meningkatkan persentase pencampuran biodiesel dari minyak sawit menjadi 50 persen dari sebelumnya 40 persen. Indonesia adalah produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia.
Dampak dan Konteks
Beata Wojtkowska, analis biofuel dari Kpler, mengungkapkan bahwa negara-negara Asia memandang biofuel yang dapat diproduksi dari bahan baku lokal sebagai cara untuk mencapai dua tujuan sekaligus: mengurangi impor energi dan meningkatkan profitabilitas bagi petani. Di tengah lonjakan harga energi, negara-negara Asia mencoba meredakan dampak terhadap ekonomi mereka dengan langkah-langkah seperti pengaturan bahan bakar, minggu kerja yang lebih pendek, dan pengaturan hari berkendara.
Peter de Klerk, ekonom senior dari International Sugar Organization, memperkirakan bahwa krisis ini akan memberikan dorongan pada sektor biofuel di Asia. India berencana untuk meningkatkan jumlah etanol yang dicampurkan ke dalam bensin, sementara Thailand juga mempertimbangkan opsi etanolnya.
Biofuel vs Pangan: Debat yang Berlanjut
Langkah untuk meningkatkan produksi dan penggunaan biofuel, seperti subsidi tanaman dan mandat, pernah menjadi bahan perdebatan tajam selama krisis harga pangan 2007-2008. Banyak kritik, termasuk politisi dan lembaga non-profit, menyoroti biofuel sebagai penyebab kenaikan harga pangan.
Produksi biofuel dapat menyita sejumlah besar tanaman. Sekitar 40 persen jagung di AS, sebagai penghasil utama, digunakan untuk membuat etanol, sementara Brasil, sebagai produsen gula terbesar, menggunakan 50 persen tebu untuk biofuel.
Kenaikan biaya energi, transportasi, dan pupuk akibat perang telah memicu kenaikan harga pangan dunia yang mencapai puncaknya dalam enam bulan terakhir pada bulan Maret. Peningkatan penggunaan biofuel dapat berpotensi mendorong harga pangan lebih tinggi lagi.
Namun, Phil Aikman, direktur kampanye Southeast Asia untuk non-profit Mighty Earth, mengatakan bahwa kenaikan harga pangan yang signifikan hanya akan terjadi jika produsen biofuel membangun pabrik baru dalam skala besar, yang akan memakan waktu bertahun-tahun.
Selain itu, pasokan biji-bijian dan minyak nabati global saat ini melimpah, sehingga perdebatan pangan vs biofuel tidak sepopuler tahun 2007-2008.
Keterbatasan dan Harapan untuk Biofuel
Biofuel saat ini hanya memenuhi sebagian kecil dari kebutuhan energi global, dengan mencakup sekitar 4 persen dari permintaan bahan bakar transportasi. Konsultan BMI, unit dari Fitch, memperkirakan biofuel akan memenuhi 5 persen dari kebutuhan energi transportasi pada tahun 2035.
Namun, menurut Wojtkowska, keterbatasan dalam membangun pabrik baru, batasan pencampuran bahan bakar, dan kendala pasokan bahan baku akan mencegah pertumbuhan permintaan biofuel yang signifikan dan cepat. “Biofuel dapat membantu sedikit meredakan harga (bahan bakar), tetapi tidak dalam skala besar,” ujarnya.
Kesimpulan
Dengan meningkatnya harga minyak global akibat perang, penggunaan biofuel di Asia menjadi semakin penting. Meskipun ada kekhawatiran tentang dampaknya terhadap harga pangan, biofuel dapat menjadi alternatif yang strategis untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Pemerintah negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, diharapkan dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk memanfaatkan potensi biofuel secara maksimal.