SINGAPURA: Supermarket dan grosir di Singapura akan segera memiliki alat baru berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dapat membantu menjaga kesegaran produk lebih lama, sekaligus mengurangi pemborosan makanan. Alat ini dikembangkan oleh Nanyang Technological University (NTU) melalui lembaga Future Ready Food Safety Hub (FRESH@NTU) yang merupakan kerjasama dengan Agency for Science, Technology and Research (A*STAR) dan Singapore Food Agency (SFA).
Model yang diciptakan oleh FRESH@NTU ini memiliki kemampuan untuk memprediksi pertumbuhan bakteri pada berbagai jenis makanan. Dengan demikian, para pengecer dapat lebih baik dalam menentukan umur simpan, kondisi penyimpanan, dan manajemen stok produk yang mereka jual.
Pemantauan Pertumbuhan Bakteri dalam Makanan
Para peneliti dapat melacak bagaimana bakteri Salmonella, yang merupakan penyebab utama penyakit yang ditularkan melalui makanan di seluruh dunia, berkembang biak pada makanan seiring berjalannya waktu. Dr. Youssef Ezzaky, seorang peneliti di FRESH@NTU, menjelaskan, “Apa yang kami coba lakukan di sini adalah meniru kondisi penyimpanan dan melihat bagaimana bakteri tumbuh, sehingga kami dapat mengumpulkan data yang diperlukan.”
Proses Pengumpulan Data dan Pembelajaran Mesin
Setelah mengumpulkan data mengenai pertumbuhan bakteri, informasi tersebut akan digunakan untuk melatih model pembelajaran mesin. “Kami memberi data ini untuk melatih dan menghasilkan model yang akurat,” tambah Dr. Ezzaky.
Dampak bagi Keamanan Pangan dan Lingkungan
Inovasi ini tidak hanya berpotensi meningkatkan efisiensi dalam manajemen pasokan makanan, tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi keamanan pangan di Singapura. Dengan mengurangi pemborosan makanan, yang menjadi isu global, ini juga akan berkontribusi terhadap pengurangan dampak lingkungan dari limbah makanan. Di Indonesia, di mana pemborosan makanan juga menjadi masalah serius, penerapan teknologi serupa dapat membantu mengoptimalkan rantai pasokan makanan dan mengurangi kerugian yang terjadi.
Pemborosan makanan di Indonesia mencapai angka yang cukup tinggi, dengan banyaknya produk yang terbuang karena kurangnya informasi mengenai kesegaran dan umur simpan. Dengan hadirnya teknologi seperti model AI dari NTU, diharapkan supermarket dan produsen makanan dapat lebih proaktif dalam menjaga kualitas produk mereka, sehingga lebih banyak makanan bisa dinikmati oleh masyarakat.
Kesimpulan
Model AI yang dikembangkan oleh NTU menjanjikan solusi inovatif untuk mengatasi masalah pemborosan makanan dan meningkatkan keamanan pangan. Dengan kemampuan untuk memprediksi pertumbuhan bakteri, alat ini dapat membantu supermarket dan grosir di Singapura menjaga kualitas makanan. Harapannya, teknologi ini dapat menginspirasi langkah serupa di negara lain, termasuk Indonesia, untuk mengurangi pemborosan dan meningkatkan akses pangan bagi masyarakat.