Pada 26 Maret, saham Meta, induk perusahaan Facebook, mengalami penurunan sebesar 6% dan mencapai titik terendah dalam sepuluh bulan terakhir. Penurunan ini terjadi setelah putusan juri yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut gagal memberikan peringatan yang memadai atau melindungi pengguna muda, yang memicu kekhawatiran tentang potensi denda miliaran dolar akibat kasus baru dan litigasi lanjutan.

Putusan Juri yang Memicu Kekhawatiran

Dalam dua sidang pertama di AS dari gelombang gugatan yang menuduh perusahaan media sosial merugikan anak-anak, juri memutuskan bahwa Meta harus bertanggung jawab. Hal ini dapat memicu pertempuran banding yang menantang perlindungan hukum yang sudah ada untuk perusahaan teknologi.

Sebuah juri di Los Angeles pada hari Rabu menemukan bahwa Meta dan Google bertanggung jawab atas depresi seorang wanita muda yang diduga terkait dengan kecanduan Instagram dan YouTube, dengan mengeluarkan putusan sebesar $6 juta sebagai ganti rugi. Dalam kasus terpisah di New Mexico, juri memerintahkan Meta untuk membayar $375 juta karena menyesatkan pengguna tentang keamanan platformnya bagi anak-anak dan memungkinkan eksploitasi mereka.

Dampak Putusan Terhadap Meta dan Industri Media Sosial

Adam Sarhan, CEO 50 Park Investments, menyatakan, “Putusan ini menambah lapisan risiko baru di atas kekhawatiran yang sudah ada terkait intensitas pengeluaran AI, tekanan kompetitif dari TikTok dan lainnya, serta ketahanan pertumbuhan iklan. Oleh karena itu, hal ini menjadi pemicu bagi beberapa pengambilan keuntungan, bukan satu-satunya penyebabnya.”

Snap dan TikTok juga merupakan tergugat dalam persidangan di California, dan keduanya telah menyelesaikan perkara dengan penggugat sebelum persidangan dimulai. Saat ini, Meta, Google, Snap, dan perusahaan induk TikTok, ByteDance, menghadapi ribuan gugatan yang menuduh bahwa platform media sosial mereka telah merugikan kesehatan mental remaja dan pengguna muda.

  • Lebih dari 2.400 kasus serupa telah dikonsolidasikan di depan satu hakim di pengadilan federal California.
  • Ribuan kasus lainnya telah dikonsolidasikan di pengadilan negara bagian California.

Glenn Cohen, profesor di Harvard Law School, berkomentar, “Bagi Snap, yang merupakan perusahaan jauh lebih kecil, saya pikir ini justru meningkatkan risiko bagi mereka jika banyak kasus lainnya akan menyusul.” Saham Snap turun sekitar 6%, sementara saham induk Google, Alphabet, mengalami penurunan sebesar 2,2%.

Kesimpulan

Penurunan saham Meta dan putusan juri ini mencerminkan tantangan hukum yang semakin meningkat bagi perusahaan teknologi besar, terutama di sektor media sosial. Sementara Meta dan perusahaan lainnya menghadapi risiko hukum yang signifikan, dampaknya terhadap kesehatan mental pengguna muda dan remaja di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, harus menjadi perhatian serius. Dengan semakin banyaknya gugatan yang diajukan, masa depan perusahaan-perusahaan ini akan sangat bergantung pada bagaimana mereka merespons dan menangani masalah yang dihadapi.