BEIJING: Presiden Tiongkok, Xi Jinping, menegaskan bahwa penegakan hukum internasional sangat penting untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan pada hari Selasa (14 April), sebagai kritik terhadap perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran.

Meski Beijing telah berulang kali mengkritik kampanye AS-Israel sebagai tindakan ilegal, Xi jarang memberikan komentar publik mengenai konflik ini. Ia dijadwalkan akan melakukan pembicaraan dengan Presiden AS, Donald Trump, dalam pertemuan yang diharapkan berlangsung di Beijing bulan depan.

“Hukum tidak bisa hanya digunakan saat menguntungkan dan dibuang saat tidak,” tegas Xi kepada Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, putra mahkota Abu Dhabi, menurut laporan dari kantor berita resmi Xinhua.

Xi juga berjanji bahwa Tiongkok akan memainkan peran yang “konstruktif” dalam mendorong dialog perdamaian di Timur Tengah, sebagaimana dilaporkan oleh Xinhua. Dalam pernyataannya, Xi mengusulkan empat langkah untuk mendorong perdamaian di kawasan tersebut.

Empat Usulan untuk Perdamaian

“Kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial negara-negara Teluk di Timur Tengah harus dihormati dengan tulus,” ujar Xi. Ia menambahkan, “Melindungi otoritas hukum internasional tidak bisa berarti ‘digunakan saat sesuai, hilang saat tidak’.”

Walaupun tidak menjelaskan secara rinci, Xi juga menekankan pentingnya menjaga tatanan dunia berbasis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta berkoordinasi dalam isu keamanan dan pembangunan.

Tensi Meningkat di Timur Tengah

Kunjungan Xi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah pembicaraan antara Washington dan Tehran akhir pekan lalu gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Sejak perang meletus pada akhir Februari, Iran telah secara efektif menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang dianggap berasal dari negara-negara yang tidak bersahabat. Pada hari Senin, militer AS memulai blokade terhadap pelabuhan Iran, dengan tuduhan bahwa Iran melakukan “terorisme ekonomi”.

Pengiriman minyak dari negara-negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), melalui selat tersebut telah merosot drastis sejak perang dimulai. Tehran juga telah meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk tetangga, termasuk UEA.

Dampak bagi Indonesia

Data resmi pada hari Selasa menunjukkan bahwa impor gas alam Tiongkok pada bulan Maret turun ke level terendah sejak Oktober 2022, sementara pengiriman minyak mentah juga mengalami penurunan sebesar 2,8 persen, dengan kapal-kapal Tiongkok terjebak di Selat Hormuz. Hal ini bisa berdampak pada ekonomi Indonesia, yang juga bergantung pada stabilitas pasar energi global.

“Kita tidak boleh membiarkan dunia kembali ke hukum rimba,” tegas Xi kepada Sheikh Khaled, yang merupakan putra tertua Presiden UEA, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

Kesimpulan

Pernyataan Xi Jinping menyoroti pentingnya penegakan hukum internasional sebagai fondasi untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah. Mengingat posisi strategis Indonesia dalam peta geopolitik, upaya untuk menjaga stabilitas regional dan global juga menjadi tanggung jawab bersama. Penting bagi Indonesia untuk memantau perkembangan ini dan berkontribusi pada dialog perdamaian di kawasan.